Kamis, 10 Februari 2011

Pemberian Skor, Acuan Penilaian, Skala Penilaian

Pemberian Skor, Acuan Penilaian, Skala Penilaian

A.      Pemberian skor.
Pemberian skor (scoring) adalah proses pengubahan jawaban-jawaban soal tes menjadi angka-angka atau bisa disebut suatu tindakan kuantifikasi terhadap jawaban-jawaban yang diberikan oleh testee dalam suatu tes hasil belajar. Pemberian skor biasanya disebut dengan memberi angka.
Ada 3 macam alat bantu dalam pemberian skor, yaitu:
1.         Pembantu menentukan jawaban yang benar disebut kunci jawaban.
2.         Pembantu menyeleksi jawaban yang benar dan yang salah disebut kunci skoring,
3.         Pembantu menentukan angka disebut pedoman penilaian
Memberi skor dalam beberapa bentuk tes:
a.         Tes Bentuk True false
Dalam menentukaan skor untuk tes bentuk betul salah ada 2 cara, yaitu
Ø Tanpa hukuman
    Adalah apabila banyaknya angka yang diperoleh siswa sebanyak jawaban yang cocok dengan kunci.
Ø    Dengan hukuman
Ada 2 rumus:
Skor = Benar – salah
Skor = Total – 2 salah
b.        Tes bentuk multiple choice
Dalam menentukan skor untuk tes bentuk betul salah ada 2 cara, yaitu
Ø  Tanpa hukuman
Adalah apabila banyanya angka yang diperoleh siswa sebanyak jawaban yang cocok dengan kunci.
Ø  Dengan hukuman
Keterangan :
n = banyaknya pilihan jawaban.

c.         Tes bentuk short answer test
Adalah bentuk tes yang menghendaki jawaban berbentuk kata atau kalimat pendek.
d.        Tes Bentuk matching
Adalah bentuk tes pilihan ganda dimana jawaban – jawaban dijadikan satu, demikian pula pertanyaannya.
e.         Tes bentuk essay
Menyusun sebuah tes uraian sebaiknya menentukan terlebih dahulu pokok- pokok jawaban yang kita kehendaki dengan demikian maka akan mempermudah kita dalam pekerjaan mengoreksi tes itu.
f.          Tugas
Tolok ukurnya adalah :
©        Ketepatan waktu penyerahan tugas
©        Bentuk fisik pengerjakan tugas
©        Sistematika yang menunjukkan alur keruntutan pikiran
©        Kelengkapan isi menyangkut ketuntasan penyelesaian dan kepadatan isi
©        Mutu hasil tugas
Langkah-langkah Menskor secara umum:
a.    Menyusun suatu jawaban model sebagai kunci jawaban yang memenuhi syarat sebagai jawaban yang baik (benar, relevan, lengkap, berstruktur, dan Jelas).
b.     Setiap item bisa berbeda bobot. Perbedaan bobot bisa berdasar pada jenis bahan (bahan perangsang, bahan inti, bahan penting, dan kurang penting), teksonomi (pengetahuan, pemahaman, evaluasi, dll).
c.       Membaca beberapa jawaban dari peserta didik yang kurang pandai dan yang pandai. Hal ini dapat dipakai untuk memperoleh gambaran umum tentang kualitas dari jawaban dari para peserta didik atau mengecek apakah kunci jawaban cukup realistik.
d.    Sebaiknya masing-masing nomor dari jawaban tes diperiksa sekaligus sebelum melakukan skoring nomor yang lain.
e.    Agar tidak terpengaruh oleh kesan mutu jawaban yang mendahului sebaiknya sesudah selesai diperikasa jawaban-jawaban satu nomor, lembar jawab perlu ditukar urutannya.
f.         Tidak usah memperhatikan nama dan nomor peserta, untuk mengurangi subyektivitas.
g.        Membiasakan hanya memeriksa isi pikiran yang dikemukakan  dalam jawaban, sehingga tidak perlu menilai bentuk tulisan dan lain-lain.
h.        Mengembalikan lembar jawab lengkap dengan catatan-catatan seperlunya.
Perbedaan antara skor dengan nilai.
Skor adalah hasil pekerjaan menskor yang diperoleh dengan menjumlahkan angka-angka bagi setiap soal tes yang dijawab betul oleh siswa.
Nilai adalah angka ( huruf ) yang merupakan hasil ubahan dari skor yang sudah dijadikan satu dengan skor-skor lain serta disesuaikan pengaturannya dengan standart tertentu.
Contoh:
Skor maksimal diharapkan 40. A memperoleh skor 24. Berarti bahwa sebenarnya A hanya menguasai  tujuan instruksional khusus tersebut hanya 60% dari tujuan instruksional khusus. A mendapat nilai 60. Jadi, 24 adalah skor dan 60 adalah nilai.

B.       Acuan Penilaian.
    Setelah mendapatkan skor-skor dari pekerjaan  peserta didik, maka skor-skor tersebut menjadi dasar penilaian hasil belajar. Penilaian ialah kegiatan memperbandingkan hasil pengukuran (skor) sifat suatu objek dengan acuan yang relevan sedemikian rupa sehingga diperoleh suatu ukuran kualitas. Semakin maju taraf perkembangan peserta didik seyogyanya semakin pendek rentang nilai. Ada dua acuan penilaian yaitu Penilaian Acuan Normatif (PAN) dan Penilaian Acuan Patokan (PAP).
1.      Penilaian Acuan Patokan (PAP)
    Penilaian Acuan Patokan (PAP) adalah suatu penilaian yang meperbandingkan prestasi belajar peserta didik dengan suatu patokan yang telah ditetapkan sebelumnya.Acuan penilaian ini banyak dipakai dalam konsep kurikulum berbasis kompetensi.
  Acuan ini biasa dikenal dengan Standart Mutlak.
        Contoh:
Skor maksimal diharapkan 40. A memperoleh skor 24. Berarti bahwa sebenarnya A hanya menguasai  tujuan instruksional khusus tersebut hanya 60% dari tujuan instruksional khusus. A mendapat nilai 60.
  Pada hal ini, A dibandingkan dengan skor maximal.
*        Penilaian Acuan Patokan (PAP) Tipe I
Merupakan acuan penilaian dengan nilai kelulusan atau ketuntasan 65 %.
Tingkat Penguasaan Kompetensi
Nilai Huruf
90% - 100%
A
80% - 89%
B
65% - 70%
C
55% - 64 %
D
Di bawah 55 %
E

*        Penilaian acuan patokan Tipe II
Merupakan acuan penilaian dengan nilai kelulusan atau ketuntasan 56 %.
Tingkat Penguasaan Kompetensi
Nilai Huruf
81% - 100%
A
66% - 80%
B
56% - 65%
C
46% - 55 %
D
Di bawah 46 %
E




2.     Penilaian Acuan Normatif (PAN)
     PAN adalah suatu penilaian yang memperbandingkan hasil belajar peserta didik terhadap hasil belajar peserta didik lain dalam kelompoknya. Acuan ini sekarang dianggap kurang sesuai dengan pendekatan pembelajaran saat ini yaitu membandingkan hasil antar peserta didik.
  Acuan ini biasa disebut dengan Standart Relatif. 
            Contoh:
       Jika A masuk dalam kelompok 1 yang terdiri dari siswa yang cerdas, maka A termasuk “hebat”. Tetapi jika kemudian A terjun ke kelompok  2 yang terdiri dari siswa yang sedang kecerdasannya, maka A akan menduduki kualitas “sedang”.
  Dalam Norm Reference ada 3 kelompok, yaitu:
1.        Kelompok Baik.
2.        Kelompok Sedang.
3.        Kelompok Kurang.
  Tipe ini kurang banyak dipakai dalam praktik penilaian.
  Dasar penilaiannya adalah mean (M) dan deviasi standar (S).
3.         Jika Standart Relatif dengan Standart Mutlak dihubungkan dalam pengubahan skor dengan nilai adalah:
    Dengan Standart Mutlak:
*   Pemberian skor terhadap siswa, didasarkan atas pencapaian siswa terhadap tujuan yang ditentukan.
*      Nilai diperoleh dengan mencari skor rata-rata langsung dari skor asal (mentah)
*        Contoh:
Pada ulangan 1, Andi mendapatkan skor 60( mencapai tujuan 60% dari tujuan)
Pada ulangan 2, Andi mendapatkan skor 80( mencapai tujuan 80% dari tujuan)
Pada ulangan 3, Andi mendapatkan skor 50(mencapai tujuan 50% dari tujuan)
Jadi nilai Andi adalah :
Dibulatkan menjadi 63
 Dengan Standart Relatif.
* Pemberian skor terhadap siswa, didasarkan atas pencapaian siswa terhadap tujuan yang ditentukan.
*   Nilai diperoleh dengan 2cara, yaitu:
                                                                        i.               Mengubah skor dari tiap-tiap ulangan lalu diambil rata-rata.
                                                                      ii.               Menentukan skor tiap-tiap ulangan, baru diubah ke nilai.
C.      Skala Penilaian
    Skor hasil evaluasi seorang individu belum bisa diinterpretasikan tentang tingkat penguasaan atau kedudukan relatifnya dalam kelompok peserta evaluasi itu, jika tidak disertai informasi lain yang mendukung.
           Agar skor itu bisa diinterpretasikan harus diubah ke dalam bentuk nilai.
    Nilai tersebut bisa bersifat kuantitatif (dinyatakan dengan angka) dan bisa pula bersifat kualitatif dinyatakan dengan huruf atau kategori).
        Untuk mengubah skor menjadi nilai digunakan tekhnik analisis dan skala penilaian, yaitu: 
        1)        Skala Sebelas 
               Skala sebelas diambil dari kata ”Standard Eleven” yang disingkat Stanel yang dipergunakan untuk mengubah skor mentah yang diperoleh siswa ke dalam 11 kelompok nilai, yaitu 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, dan 10. Skala ini paling sering digunakan oleh para guru. Di samping sudah terbiasa menggunakannya, proses perhitungannya pun mudah dan nilai tersebut bisa secara langsung mencerminkan prestasi penguasaan siswa terhadap materi tes. 
         2)    Skala Sepuluh (skala 1-10) 
                Dalam penggunaan skala 10, skor aktual siswa ditransfer ke dalam 10 kelompok nilai, yaitu: 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, dan 10. Skala 10 ini dipakai di sekolah sesuai dengan anjuran pada kurikulum 1975, bahwa seorang siswa yang sudah belajar tidak mungkin pengetahuannya tidak bertambah, apalagi berkurang. Oleh karena itu, nilai 0 (nol) ditiadakan. 
        3)    Skala Sembilan (skala 1-9) 
              Skala sembilan diambil dari kata ”Standard Nine” yang disingkat Stanin. Dalam skala sembilan skor aktual siswa ditransfer ke dalam 9 kelompok nilai, yaitu: 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9. Dibuangnya nilai 0 (nol) adalah berdasarkan pertimbangan seorang siswa yang sudah belajar tidak mungkin pengetahuannya tidak bertambah. Sedangkan dibuangnya nilai 10 adalah berdasarkan anggapan bahwa siswa tidak mungkin dapat menyerap seluruh materi yang diberikan. 2 
       4)    Skala Lima (skala huruf) 
          Skala lima disebut juga dengan skala huruf karena nilai akhir tidak dinyatakan dengan angka (bilangan), malainkan dengan huruf A, B, C, D, dan E. Beberapa pakar evaluasi pendidikan ada pula yang menggunakan huruf F (failure) arai huruf G (gagal) sebagai pengganti nilai E. 
        5)    Skala Baku 
             Skala baku (standar) disebut juga skala z, dan nilainya disebut nilai baku atau nilai z. Dasarnya adalah kurva normal baku yang memiliki nilai rerata = 0 dan simpangan baku s = 1. z 
        6)    Skala Seratus (1-100) 
           Nilai dengan menggunakan skala seratus disebut skor T yang bergerak pada interval 0 sampai dengan 100. Nilai dengan menggunakan skala 100 ini didasari oleh nilai z. 
         7)    Skala Bebas. 
             Skala yang tidak tetap. ada kalanya skor tertinggi 20, lain kali 25, lain kali 50. Ini semua tergantung dari banyak dan bentuk soal. Jadi angka  tertinggi dari skala yang tidak digunakan tidak selalu sama.































Tidak ada komentar:

Poskan Komentar